Dalam beberapa pekan terakhir setidaknya aku mendengar empat kali kabar duka.

Sekitar awal bulan Mei 2017, rekan seperjuanganku di Tanah Syuhada yakni Fiki Murdiansyah mendapat kabar duka dari Tanah Air. Ibunya yang tengah berjuang melawan sakit akhirnya berpulang. Fiki histeris di ruang ganti. Aku memeluknya dengan perasaan yang pilu. Bagaimana tidak, tujuh tahun lalu aku pernah diposisinya. Jadi jelas, aku sangat mengerti perasaan Fiki saat itu. Berkali-kali ia meraung, bahunya berguncang-guncang, air matanya seakan menjadi lagu paling pedih pagi itu. Aku juga tak kuasa menahan tangis, sementara rekan-rekan yang lain juga ikut merasakan kepedihan yang dalam.

Aku mungkin pernah merasakan kehilangan yang sama, namun aku tak tahu bagaimana rasanya ketika orang yang kau cintai pergi saat tak di sampingnya, tak didekatnya. Tujuh tahun lalu, Ibuku pergi tepat setelah aku menuju kamarnya. Ia menghembuskan napas terakhir ketika anak-anaknya berkumpul disekelilingnya. Namun Fiki? Ia hanya bisa membayangkan dari kejauhan. Ribuan kilometer demi kilometer itu terasa bagai perjalanan terjal paling menyakitkan. Ya, jarak Indonesia-Turki bukan jarak yang dekat. Perlu waktu dua belas jam lebih menggunakan pesawat terbang, itupun jika tanpa transit.

Kemal Hoca, wali kelas kami tetiba datang tergopoh-gopoh. Merangkul Fiki, dan menasehati dengan lembut. Seperti ayah yang tengah menenangkan anaknya yang kesakitan karena terjatuh. Salah satu hoca kami yang lain, Mehmet Ghazi juga memeluk Fiki sambil menasehati. Bahwa Ia juga pernah merasakan kesedihan yang sama. Beberapa tahun lalu, ayahnya di Maroko juga pergi saat ia tengah menempuh pendidikan di Istanbul. Mehmet Ghazi Hoca memberikan semangat, kisah-kisah pilu rasul, dan apapun nasihat yang membuat Fiki setidaknya tetap tenang dan sabar dalam menerima qadarullah tersebut. Salah satu nasihatnya begini;

Jika dibandingkan dengan Nabi Muhammad S.A.W, maka kepedihan yang dialami beliau jauh lebih dalam perihal kehilangan orang tua. Sebelum dilahirkan ke dunia, beliau tidak pernah bertemu ayahnya. Karena Abdullah (sang ayah) telah pergi saat Rasul dalam kandungan. Usia enam tahun, bahkan ibunda tercinta (Siti Aminah) wafat. Belajarlah dari ketegaran hati Rasul. Ikhlas, karena yang berasal dari Allah, pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Cepat atau lambat. Jadi, simpan kesedihanmu, jangan berlarut-larut. Tetap tegar menjalani hidup. Saat ini mari kita panjatkan doa untuk almarhumah Ibumu. Karena saat ini hanya doalah yang ibumu butuhkan. Bukan air mata. Justru ia akan sedih jika ditangisi. Bersabarlah. Innalillahi, wa innailaihi rajiun.

Mendengar nasihat itu, bukan hanya Fiki yang berangsur pulih dari kesedihan. Raungannya mereda, hanya ada sesekali isak yang terdengar. Seluruh murid Indonesia juga banyak mengambil hikmah dari kejadian hari ini. Setiap peristiwa pasti ada hikmah. Sesaat setelah Fiki menelepon keluarganya di Indonesia, ia bersama baskan (sebutan untuk ketua kelas) pergi ke white room atau beyaz odasi.

Selama beberapa hari, Fiki dan hoca kami akan berziarah ke Istanbul untuk menenangkan diri, sekaligus merefresh kesedihannya dan membuat hatinya lapang, tabah, sabar, atas kebergian ibunya.

Dalam pekan-pekan berikutnya, aku juga mendengar berita duka yang lain. Seperti rekan seperjuangan kami di Indonesia yang tengah berjuang melawan sakitnya. Akhirnya berpulang. Diriku pribadi juga mendengar kabar duka dari mantan kekasihku. Sebut saja Lily. Ia merasa kehilangan kekasihnya yang baru saja meninggalkan untuk selamanya karena penyakit gula yang telah lama ia derita.

Dari beberapa kejadian tersebut aku belajar bahwa kematian seakan dekat dengan siapa saja. Dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun, manusia bisa dengan segera menemui ajalnya. Dan yang paling menjadi pusat perhatian adalah kematian pekerja seni kondang berinisial JP yang akhirnya dipanggil sang khalik setelah berjuang keras melawan kanker servik yang dideritanya.

Tidak ada yang perlu disombongkan oleh setiap manusia. Karena pada dasranya kita semua akan kembali pada-Nya. Maninggalkan duni yang fana dan penuh kepalsuan ini. Dan bagaimanakah keadaan kita ketika menghadap ilahi kelak? entah dengan cara yang indah atau tidak?

Mati dalam keadaan terbaik, indah, khusnul khatimah adalah impian yang sulit ditepis bagi tiap orang. Terutama kaum muslim. Maka sudah siapkah dengan kematian indah kita?

Karena pepatah bijak selalu mengingatkan kita, yang paling dekat adalah kematian. Hidup hanya sepanjang waktu diantara adzan dan iqomah. Dunia hanya persinggahan layaknya bandara, karena semua yang datang pasti akan pergi.

Allahuma bishowab.

 

Advertisements