Kapan terakhir kamu merasa iri? Kemarin? Tadi malam?

atau saat ini…

Iri. Mungkin sejak kecil masing-masing dari kita sudah mengenal dan bahkan sering merasakan apa itu yang disebut rasa iri. Sejak kecil, terlebih dalam lingkungan pertama kita yakni keluarga, iri bisa saja timbul ketika adik atau kakak kita memperoleh sesuatu sedangkan kita tidak. Di lingkungan yang lebih luas, seperti lingkungan rumah bahkan sekolah, iri akan terus berkembang bagaimana bentuknya seiring banyaknya orang-orang yang kita kenal. Mulai dari sahabat, teman, kakak kelas, adik kelas, rasa iri timbul menjadi kompleks hingga iri itu berevolusi menjadi sebuah rasa yang sering timbul namun (terkadang) bahkan tak pernah dikenali.

Menurutku, iri itu punya dua sisi. Positif dan negatif. Iri yang positif lebih berkontemplasi pada rasa ‘termotivasi’. Misalnya, rekan sejawat kita memperoleh pekerjaan yang lebih worth it daripada kita. Sebagai teman yang memang punya latar belakang sama, tentu rasa iri akan timbul secara manusiawi, lalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak ‘kenapa kok dia bisa?’ ‘kenapa saya tidak bisa?’ Kadang, kurangnya motivasi dalam diri untuk bisa lebih baik adalah kepercayaan atau fanatisme yang terlalu dikaburkan pengertiannya. Misal, beranggapan bahwa ‘roda pasti berputar’, ‘tiap orang sudah digariskan kehidupan dan takdirnya’, ‘sudah rejekinya’, ‘ah, itu hanya keberuntungan’. Padahal sejatinya, tiap berhasil atau tidaknya seseorang yang membedakan hanya dua, yakni usaha dan doa. Jika kini dirimu belum beranggapan bahwa apa yang dicapai masih belum sesuai dengan harapan, perlu dipertanyakan lagi seberapa keras, seberapa besar, usaha dan doa kamu?

Sesimple itu, kadang. Tapi namanya juga pemikiran manusia yang sering melampaui batas, ada saja hal-hal nyeleneh yang memang dilakukan hanya untuk membayar rasa iri dengan hal-hal yang negatif, seperti memanipulasi, propaganda, hingga main curang. Menurutku, rasa iri ini yang termasuk ke dalam kategori negatif. Selain itu, iri negatif juga bisa ditandai dengan penyangkalan-penyangkalan untuk mengakui kesuksesan seseorang, atau bahkan kesuksesan dirinya sendiri (separah itu-kah?).

Pelampiasan rasa iri memang bervariasi. Ada yang sekelebat kemudian biasa saja. Ada yang menggebu-gebu kemudian menyalahkan taqdir, adapula yang ambisius untuk segera memusnahkan rasa iri tersebut dalam berbagai cara bahkan dengan jalan hina sekalipun. Naudzubillah.

So, buat teman-teman yang mungkin sedang ada dalam fase iri yang akut, come on guys! Tidak ada yang patut diirikan, apalagi timbul perilaku negatif setelah iri itu muncul. Sangat disayangkan bila waktu kita hanya dibuang karena rasa iri yang tiada habisnya. Mulailah mengakui dir-sendiri bahwa menjadi ‘aku’ adalah suatu hal yang patut dibanggakan, suatu hal dalam bentuk karunia yang besar. Mari pangkas rasa isi dan mulai tanam rasa syukur sebanyak yang kita mampu. (Are you ready!! Go!).

Enjoy. Life. Love. Grateful. Repeat.

rain1

Advertisements