Hi Fudoari

Teruntuk sahabatku yang kini tengah jauh di mata namun kuupayakan tetap dekat di hati. Ketahuilah bahwa ribuan jam pernah telah kita lalui sama-sama dengan payah, peluh, bahkan air mata. Kamu yang hadir tanpa diminta, dirimu yang paham sementara sekitar enggan, kamu yang selalu datang sementara yang lainnya pergi. Dan kuharap semua itu tanpa alasan, tulus dari lubuk hatimu yang terdalam. Aku ingin persahabatan kita sehebat ingatan kita terhadap mantra-mantra yang pernah kita ucapkan bersama dengan lantang dalam derai tawa, masih ingatkah?

Mantra-mantra ajaib yang pernah kutuliskan disini –> Mantra Ajaib

September, dua ribu dua belas. Kita bertemu dalam sebuah insiden yang sulit ditepis. Kamu yang risih ketika kulanturkan pekikan ‘apaan sih, kak?’ Berusaha untuk mencegahku agar tetap bungkam. Entah, sejak kejadian itu kita bagai simfony. Melengkapi dan saling percaya bahwa frekuensi kita sejalur.

Berjuta kenangan tercipta, membumbung begitu saja tanpa diminta. Kita mengenal satu sama lain layaknya pada diri kita masing-masing. Dan akhirnya, setelah ribuan kali gerbang asrama menjadi saksi pelarian malam-malam, ujian persahabatan paling hebat itu datang. Ya, sebuah insiden yang nyaris bahkan tak bisa dilupakan. Seumur hidup.

Agustus 2014, aku tengah menjalani sebuah kegiatan kampus bernama KKN di pelosok Banten. Setelah sebulan penuh, akhirnya kegiatan yang kuceritakan panjang lebar disini usai. Jutaan topik pembicaran terbebani begitu berat dan hanya pada kamu beban berat ini bisa dibagi. Tergopoh-gopoh aku tiba di asrama. Namun malangnya, kamu tiada.

Aku ramai dalam sepi, kutanya setiap orang, mereka menghindar. Kutanya sana-sini, namun seperti ada masalah besar yang sulit dimaafkan. ‘Ya, dia sudah pergi‘, lirih salah satu teman sekelompokku di asrama. Lantas, bagaimana dengan cerita sebenarnya? Ribuan pertanyaan muncul dalam benak tanpa diminta. Kamu pergi tanpa pamit, bahkan ku tak tahu kemana rimbanya. Apakah kamu saat ini sedang baik-baik saja, sedang kelaparan, atau sedang sakit di sudut ruangan tanpa ada seseorang?. Bayanganmu bertebaran di asrama, seluruh lagu paling sedih kuputar, dan kesedihan semakin menjadi-jadi kala ada yang menyebut ‘tiga huruf’, ataupun ketika guru mengabsen dan menyebut nomor urut tiga. Tiga! Tiga! Namun tetap sunyi. Tanpa jawaban.

Aku sering termangu di meja-mu. Meja mungil dengan bangku agak sedikit reot yang langsung menghadap jendela. Hujan dan gerimis di luar asrama seakan menjadi melodi paling pedih ketika tak kutahu dimana kamu bersemayam. Hi Fudoari! Dimana kamu.

Beberapa hari berselang. Keajaiban itu datang. Awal mula kutahu dimana keberadaanmu adalah suara ribut-ribut santri mencari koper. Lantas aku mengikuti seseorang yang berusaha mencari kamu. Kost-an Opung. Syukurlah dirimu baik-baik saja. Sejak saat itu, persahabatan kita tidak lagi seatap. Ada tembok besar yang menghalangi, ya tembok asrama. Meski dirimu berada diluar, kita masih sering bertemu. Menginap, kuliner ini itu, bahkan kukenalkan pada sahabat di bangku kuliah bernama Sinti. Perempuan bodoh dan lucu namun luar biasa baik itu juga pernah kuceritakan panjang lebar disini dan juga di postingan ini bersama bangsanya.

Ah, nyatanya tembok besar bukan masalah. Sahabat akan tetap jadi sahabat. Di tengah struggel-ku yang tengah menyelesaikan study, mengajar dan bekerja sana-sini untuk biaya adik-adik di kampung, kami saling support. Dirimu yang juga struggel di luar sana. Menjadi guru sebuah MI, kemudian guru seni dan guru bahasa Indonesia di sebuah SMA swasta terpencil, di sudut jalan kecil.

Selain tempat bekerja, tempat tinggalmu pun berpindah-pindah. Dimulai singgah pada kontrakan sumpek nan minimalis milik seorang nenek-nenek bernama Opung, lalu berusaha tinggal di asrama aliran salaf dibilangan Sodong. Aku juga sering menginap disini. Meski kamarmu ada di loteng ujung kanan, namun cukup nyaman ketimbang tempat tinggalmu sebelumnya. Oh iya, aku juga sempat punya kenangan indah disini bersama-sama mencangkul, mengangkut batu-bata, masak mie pakai susu dan yakult, hingga memberi makan ayam-ayam peliharaan pondok.

Syukurlah, dimanapun kamu tinggal setidaknya selalu ada orang-orang baik di sekelilingmu. Sampai suatu ketika, malapetaka itu datang. Asrama sodong terusik dengan hinaan dari para pecinta habib. Gus Nuril seakan ditolak, sehingga mendapat kemurkaan dari seluruh penghuni asrama. Mereka menyiapkan pedang, mengasah golok, siap berperang. Dalam kegentingan itu kamu memutuskan untuk pergi karena keadaan semakin genting.

Kost Ekor Kuning.

Sebuah kubus paling nyaman untuk sembunyi. Aku yang selalu keluar asrama untuk kesini, setidaknya punya kenangan manis yang sulit ditepis. Pemiliknya bernama Pak Natsir, berwajah tegas, bermata tajam, dan sering berkata pedas. Memasak, gini lagi, gini lagi, hingga tidak berbuat apa-apa selalu kita habiskan waktu di Kost penuh sejarah ini. Waktu itu, kamu pun sudah pindah bekerja di salah satu perusahaan multinasional yang bergerak dalam bidang pemasaran bidang bahasa, industri kreatif, serta haji dan umroh.

Satu hal yang tak pernah kulupa kala kamu mengajakku untuk siaran radio ketika menjadi marketing of Grolier adalah ketika di Maestro FM Bandung. Jadi, sebagai praktisi pendidikan, aku bertugas untuk menyampaikan penting dan urgensi Bahasa Inggris ke khalayak demi mendongkrak penjualan, meski tanpa aku pun, kemampuan marketingmu sangat luar biasa. Nah pertama kali siaran ini yang membuat aku sulit lupa adalah, tawa kita mengudara di langit Bandung bahkan Nasional kala insiden mic berjungkal keatas. Yaampun kalau diingat-ingat. Aku sama sekali tidak pernah ingin melupakan kejadian itu. RPK, Dakta, Camajaya FM, bahkan aku tak ingat lagi radio-radio mana lagi yang telah kita sambangi. Begitu lika-liku persahabatan telah membawa kita ke titik ini. Titik dimana tiada lagi yang harus ditutup-tutupi, tiada lagi ego, dan maaf selalu tercurah pada masing-masing jika melakukan salah. Hingga sejauh itu frekuensi kita.

Dan ujian selanjutnya pun bergulir.

Usai lulus sarjana, aku memutuskan untuk mengikuti pendidikan di penjara suci, Tanah Syuhada. Setelah perbincangan panjang lebar tentang program ini, akhirnya aku memilih pergi. Mungkin dirimu sangat terpukul, dan menemukan sosok pengganti sahabat yakni seorang dokter gigi cubby lulusan universitas bergengsi. Kamu tinggal bersamanya, merajut persahabatan yang lekat, sementara aku belajar dogma-dogma agama yang sangat sulit kupahami.

Aku akhirnya pergi. Membelah lautan awan.

Pada sebuah kota di negara yang asing, teman paling dekat masih saja kamu. Di akhir pekan, walaupun jarak beribu-ribu kilometer, kita masih saja memecah tawa lewat satelit telephone. Terimakasih telah menjadi salah seorang yang selalu ku telepon di akhir pekan setelah keluargaku. Terimakasih atas segala support dan dukungan yang membuatku kuat. Kuat karena dikhianati perempuan yang selama ini kupuja, kuat karena saat tengah berjuang ia malah in the hoy dengan atasannya. Kamu yang juga cerita tentang pekerjaan yang kian meningkat, perkenalan dengan anak pangeran Thailand yang berujung kerjasama, hingga kini menjadi big bos representatif Indonesia. Ah kamu, selalu saja penuh pengalaman-pengalaman mengesankan yang tak pernah sedikitpun membuatku tak takjub mendengarnya.

Hingga pada akhirnya, aku memutuskan pulang.

Adalah nasib dan keadaan keluargaku yang menjadi alasan terbesar kala itu. Kamu yang selalu mendengar, mencoba membantu hingga sempat menjadi korban PHP kepulanganku pula. Dan Januari 2018, langkahku benar-benar menapak pada bumi Jakarta. Kamu adalah satu-satunya manusia yang kukenal ketika aku keluar dari gerbang kedatangan penumpang internasional. Terimakasih telah menyambut, memberikanku tumpangan yang nyaman, serta bumbu-bumbu persahabatan yang penuh rasa.

Dan kini, izinkan aku mengucapkan selamat atas beberapa minggu lagi kamu telah berstatus sebagai suami. Ya, suami seorang perawan asal Cisarua Bogor.

 

Aku tidak berharap banyak, hanya saja masihkah persahabatan kita utuh meski nantinya kita sibuk berkeluarga dan menjadi kepala serta pimpinan rumah tangga masing-masing? Masihkah………..?

 

Aridoshidoshi_

Tanjung Barat, awal Februari 2019

 

Tukang benerin mesin cuci,

tau dimana? Hah? :’)

 

Advertisements